Sabtu, 05 Maret 2011

Rumah Eyang

Rumah dengan cat putih, dan mempunyai pekarangan luas yang ditumbuhi berbagai tanaman bunga berwarna-warni indah itu, rumah Eyangku. Ya, di sinilah aku menghabiskan hari-hariku selain di sekolah. Eyang, ah, eyang terlalu baik untuk dititipi anak nakal sepertiku. Dititipi? Benarkah? Lebih tepatnya aku ditinggalkan. Mama papaku berpisah. Aku tak tahu dimana mamaku sekarang. Hiks. . . Mama, aku sangat merindukanmu.

Tapi aku cukup senang karena mengetahui papa masih ada di rumah lama kami, rumah yang pernah membawa keceriaan hari-hariku. Eits, bukan berarti aku tak suka di rumah eyang, bahkan kebalikannya, aku sangat suka berada di sini. Mengurus eyang yang tinggal berdua adalah sebuah anugerah bagiku. Itulah kenapa saat teman-teman menanyakan kenapa aku tidak ikut atau tinggal bersama papaku saja, yang jelas-jelas lebih enak karena berada di kota, sekali lagi aku akan dengan lantang menjawab karena bagiku mengurus kakek dan nenek yang biasa aku panggil eyang kakung dan eyang putri adalah sebuah anugerah. Ah, tapi lebih tepatnya lagi aku melihat ada rasa ketidakinginan papa untuk memeliharaku. Entahlah, apa aku bukan anak mama dan papa ya? Aaargh, ketika membayangkan hal yang terakhir, aku sangat takut. Takut sekali. Jangan Rabb.
“belum tidur le?”
Nah, itu suara eyang putri.
Ku tutup buku biru itu. Dan segera melangkahkan kaki, membuka pintu kamar, tampaklah wajah senja eyang putri tersenyum, oleh mata minus-ku.
“belum Yang. Eyang kenapa belum tidur?” tanyaku sambil menutup pintu kamar. Eyang tidak menjawab pertanyaanku, beliau melangkahkan kakinya menuju ruang dalam. Akupun mengikuti eyang putri sampai ke dalam ruangan. Di sana –duduk di kursi tamu- telah ada eyang kakung yang menatap lekat mataku.
“duduklah Nak!” eyang kakung membuka suara beratnya setelah aku sampai di hadapannya. Aku mengikuti perintahnya tanpa bersuara. Suasana ruangan ini hening sekali. Aku sudah tidak sabar lagi menunggu apa yang akan dikatakan oleh eyang kakung. Kulihat eyang putri tertunduk. Wajah letihnya tak menampakkan senyum sedikitpun, yang aku lihat malah ada butir air yang mengalir di pipi keriputnya. Aku tetap menunggu tanpa bersuara, memandangi eyang kakung dan eyang putri yang duduk bersebelahan tepat di seberang kursi tempat dudukku. Satu menit, dua menit, tiga menit, ah, aku sudah tak bisa menunggu lagi.
“maaf Eyang, ada yang ingin Eyang sampaikan?” akhirnya akupun membuka suara.
“Eyang . . . menyayangimu” suara eyang putri terbata.
Aku tersenyum “Iyo tahu Eyang”
“Satrio” kali ini suara eyang kakung mampir ke telingaku. Ada yang aneh, rasanya tidak pernah –seingatku- eyang kakung memanggilku dengan nama “Satrio” bukan “Iyo”.
“sudah saatnya engkau tahu ini Nak. Kau sudah kelas 3 SMA dan itu berarti kau sudah dewasa. Eyangpun tidak berhak untuk menutupinya lagi, apalagi di dalam agama kita, menutupinya itu merupakan hal yang dilarang” lanjut eyang kakung dan beberapa saat setelahnya kembali diam. Nya? Apa yang sedang dibicarakan Eyang? Akupun diam dengan mencoba menerka-nerka apa yang bakal dibicarakan eyang kakung. Tapi aku tidak sempat mengeluarkan pikiranku dalam bentuk ucapan, eyang kakung telah kembali mengeluarkan kata-katanya.
“tadi siang saat kau sekolah, Ibumu datang kemari, ke rumah kita dan . . .meminta agar kau ikut bersamanya” eyang kakung tertunduk.
“ibu? Maksud Eyang, mama? Mama ke sini Eyang? Memangnya mama sebenarnya ada dimana Eyang? Bukankah Eyang bilang mama berada di tempat yang sangat jauh, kok bisa pulang ke sini sebentar sekali Yang, tanpa melihatku pula?” tanyaku menyerbu eyang kakung. Kulihat eyang kakung masih tertunduk.
“bukan, dia ibu kandungmu. Bukan mamamu yang datang ke sini”
“ibu kandungku, bukan mama?”

“iya, ibu kandungmu Bu Meyla. Sebenarnya. . . kau anak angkat dari papa dan mamamu” ujar eyang kakung lirih.
Aku lemas, ucapan eyang kakung seperti petir menyambar tubuhku hingga hangus. Seketika itu juga aku ingat seraut wajah penuh senyum saat menatapku, Bu Meyla. Bu Meyla, ibu kandungku? Ya, aku tahu Bu Meyla, wanita yang aku panggil ibu atas permintaan mama dahulu. Ya Rabbi, akhirnya apa yang aku takutkan selama ini benar-benar terjadi. Aku tak bisa bersuara lagi. Membisu, mengikuti keheningan ruangan ini.
“mamamu, anak Eyang, bukan tidak mau mengajakmu bersamanya. Tapi waktu itu ibumu tidak mengizinkannya untuk membawamu pergi jauh. Akhirnya dengan berat hati mamamu pergi sendiri. Dia berada di NTT untuk menghindari papamu. Tolong jangan salahkan siapa-siapa le” ujar eyang putri.
Ah, eyang aku tidak akan pernah menyalahkan siapa-siapa, punya pikiran untuk menyalahkan saja tidak ada. Inilah takdir Allah, bahwa aku harus hidup tanpa orang tua, walaupun aku sebenarnya punya dua orang tua. Aku sangat merindukan mama. Dan juga sekarang aku sangat merindukan ibu, Bu Meyla, ibu kandungku yang telah berjuang melahirkan aku sehingga aku bisa melihat indahnya dunia ini. Tapi, sepertinya aku bakal tetap di sini menemani eyang, bersama eyang, di rumah eyang, rumah yang menjadi saksi suka dukaku selama hampir 9 tahun ini.

Indralaya, 31 Desember 2010
***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silakan yang mau ninggalin jejak!